Love Warrior — Trip 5

Published July 5, 2012 by GaemShal♥ (shalsasya)

 

Author: Shalsasya

Main Cast:

  • Oh Sehun
  • Byun Baekhyun
  • Selina Shin

Support Cast:

  • Madam Ty
  • EXO member
  • AS Nana
  • SNSD Jessica, Tiffany
Guest Cast:
  • MBLAQ Mir (cameo)

Genre: AU, Fantasy, Supernatural, Romance.

Rate: Teen

Length: Chaptered

Diclaimer: The story, plot, and it’s poster are mine. Selina Shin and Cassie Kim are fictional characters, just belong to me. All cast except OCs aren’t mine.

Previous Trip: {Teaser + cast introduce!} [TRIP – 1] [TRIP – 2] [TRIP – 3] [TRIP – 4]

“Sel, kau kenapa? Wajahmu memerah,” tiba tiba Aiden mengeluarkan suaranya membuatku tersenyum salah tingkah seraya tangan kananku menggenggam dua bungkus permen yang baru saja Sehun berikan.

“T -tidak apa apa,”

Hey, sejak kapan aku jadi gugup begini!?

.

.

.

[TRIP 5; BETWEEN TWO HEARTS]

Author’s pov

“Aiden, aku tidak mau mengantarkan sarapan. Ayolah, kenapa tidak kau saja?”

Pagi ini di dapur Selina merengek kepada Aiden yang masih serius menuangkan sup jagung ke mangkuk mangkuk untuk menu sarapan murid Xyn Academy hari ini. Aiden akhirnya menoleh, menatap Selina sekilas, gadis itu masih saja menatapnya dengan penuh harap, meminta agar dirinya menggantikan Selina untuk mengantarkan sarapan ke ruang makan.

“Memangnya ada apa, sih? Biasanya kau tidak begini,”

Selina tidak kehabisan akal. “Ayolah Aiden, aku bosan, sekali kali aku ingin memasak sepertimu,” ucapnya berkilah.

Aiden tetap menggelengkan kepalanya, “tidak.” katanya tegas membuat Selina melorot dan segera berbalik untuk mengambil trolinya yang sudah terisi bermangkuk mangkuk sup jagung serta minumannya, teh kayu manis.

.

.

.

“Terimakasih Selina, kau juga jangan lupa makan ya,” ucap Baekhyun ketika Selina menaruh semangkuk sup jagung di mejanya, gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum kecil, kemudian berbalik menuju meja meja lainnya. Kini tibalah ia di depan meja yang sebenarnya sejak tadi ia hindari, meja dimana seorang lelaki berwajah maskulin dengan rambut emas berkilaunya duduk manis sedang menunggu sarapannya diantarkan, mejanya Oh Sehun. Mengingat kejadian kemarin saja sudah dapat membuat wajah Selina merona, darahnya serasa berkumpul di wajah ketika mengingat bagaimana lembutnya tangan Sehun saat menyentuh, dan menggenggam tangan miliknya kemudian memberinya dua bungkus permen. Lantas bagaimana nanti Selina harus mengatur wajahnya agar tidak merona bila berhadapan dengan Sehun lagi? Dengan detak jantung yang mulai tidak karuan, ia berjalan menuju meja Sehun. Lelaki itu tengah mengobrol dengan roomatesnya yang bernama Suho saat Selina menaruh dua mangkuk sup jagung di meja mereka. Keduanya langsung menghentikan pembicaraan mereka, Suho langsung mengambil sup jagungnya sementara Sehun lantas melempar senyumnya ke arah Selina.

“Terimakasih,”  ucap Sehun kepada Selina. Gadis itu mengangguk sebelum berkata, “terimakasih juga untuk permennya kemarin,” sahutnya malu malu, ia menggigit bibir bawahnya.

“Tidak perlu dipikirkan,” ucap Sehun, Selina tersenyum kikuk kemudian membungkuk sedikit lalu berlalu dari hadapan Sehun dengan detak jantung yang sudah menggila.

“Kau melihat apa, Baekhyun?” di meja lainnya, tidak begitu jauh dari letak meja Sehun, suara berat Kris membuyarkan konsentrasi Baekhyun yang sedang mengamati satu titik. “Sehun? Atau pelayan itu?” tebak Kris tepat sasaran.

Baekhyun menolehkan kepalanya ke arah Kris, “keduanya,” jawabnya jujur.

Kris mendengus. “Kau menyukai pelayan itu, ya?”

“Hey. pelayan itu punya nama, dia bukan pelayan biasa, dia Selina Shin.” bantah Baekhyun.

Kini kedua bola mata Kris memutar, “kau menyukainya?” ia mengulang pertanyaan yang tadi ia tanyakan.

“Kalau iya bagaimana?”

.

.

.

Sehun’s pov

Akhirnya bel berbunyi, Madam Rin yang sedang mengajar langsung keluar dari kelas ini, begitu pula dengan murid yang lainnya. Aku memasukkan buku buku ku ke dalam loker yang ada di bawah meja kemudian mulai berjalan keluar kelas. Koridor sudah mulai disesaki oleh murid lain, mereka memang selalu heboh jika jam istirahat datang. Contohnya saja saat ini, mereka semua memblokir jalan ke lantai bawah, tampaknya mereka sedang mengerubuni sesuatu, yang pasti itu tidaklah penting, hanya sekumpulan murid labil yang sedang bergosip.

“Anak itu disiksa lagi,”

“Oleh Madam Ty?”

Badanku langsung menegang mendengar kedua gadis yang sedang berbisik bisik di depanku, mereka mengintip ke arah kerumunan itu. Madam Ty? Disiksa? Kedua hal itu langsung membuat pikiranku menuju satu nama, Selina. Jangan bilang yang sedang dikerubuni murid murid itu adalah Madam Ty yang sedang mencambuk Selina. Demi apapun, jangan sampai.

Dengan cepat aku menerobos kerumunan itu, tak kuhiraukan tatapan sebal dari murid lain. Sial, ternyata memang Madam Ty dengan Selina. Samar samar aku bisa mendengar bentakan Madam Ty, “siapa yang mengizinkanmu menghabiskan waktu luang dengan murid Xyn? Kau ini pelayan!” kira kira seperti itulah ucapannya. Kedua mata wanita tua itu memelototi Selina yang menekuk kepalanya, bisa kulihat kedua bahu Selina bergetar.

“Dasar gadis tidak tahu diri!” itulah teriakan terakhir yang kudengar dari mulut Madam Ty, selanjutnya yang dilakukan wanita itu adalah mengambil tongkatnya dan mengacungkannya, bersiap memukul Selina dengan tongkat tersebut. Hey, ini tidak bisa dibiarkan.

Madam Ty sudah mengangkat tongkatnya ke atas dan beberapa detik lagi bisa ku jamin tongkat itu mengenai punggung Selina. Ya, bila aku tidak menahannya dengan aerokinesisku. Semua murid yang tadinya serius melihat Madam Ty dan Selina sekarang mengalihkan pandangannya ke arahku, menatapku kaget bercampur heran. Aku tetap memasang mimik datarku, persetan dengan tatapan heran mereka semua.

“Oh Sehun, apa yang kau lakukan?” tanya Madam Ty padaku. Aku tetap menahan tongkat itu dengan angin kemudian menghempaskannya ke samping Selina, membuat gadis itu terkejut dan ikut memandangku dengan kaget.

“Kau tidak bisa memukul Selina seenaknya, apalagi dengan tongkat sekeras ini.” ucapku, aku maju beberapa langkah kemudian tanpa basa basi ku tarik lengan Selina, gadis itu masih mematung sampai aku memaksanya agar dia mengikutiku, mengabaikan tatapan aneh dari murid lain plus tatapan murka dari Madam Ty.

.

.

.

Aku mengunci pintu kamarku kemudian berbalik, menghampiri Selina yang duduk di tepi tempat tidurku. Gadis itu menatapku kemudian mendesah, “kau menolongku…. Lagi,” ucapnya membuat ujung bibirku tertarik memebentuk sebuah senyuman.

“Aku menolongmu bukan karena terpaksa, aku menolongmu karena aku mau.”

Pipi Selina memerah, karena ucapan ku kah?

Dia kembali menatapku, kini tatapannya terkesan serius. “Kau pernah menolongku sebelum sebelum ini, kan?

“Tentu saja, aku yang menolongmu saat insiden teh itu, kan?”

Dia menggeleng. “Bukan sebelumnya, di halaman belakang, dan di saat aku membersihkan kamar,” katanya, matanya seolah menuntutku. Sepertinya sekarang saat yang tepat untuk berkata jujur, dengan perlahan tetapi pasti, aku menganggukan kepalaku, membuat mulutnya menganga kecil.

“Benarkah?” cicitnya.

“Ya, aku yang menolongku saat kau tertidur di kamar milik Cassie Ahn, kau ceroboh, kau tahu?” kataku membuat Selina menggembungkan pipinya, mungkin tersinggung atas ucapanku. “Dan aku juga yang menolong seorang gadis mungil yang tengah meringkuk di tengah tengah halaman belakang tengah malam itu,” lanjutku.

“Ternyata kau,” katanya pelan. Dia menundukkan kepalanya, tangan kirinya merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kertas kecil kemudian menyodorkannya ke arahku. “Kalau yang ini… Tulisan kau juga?” tanyanya ragu, ia menunduk tidak mau meliat wajahku. Tulisan ini, saat aku mengantarkan makan malam ke depan pintu kamarnya. Apa aku perlu mengakuinya?

“Kalau iya bagaimana?”

Dia langsung mendongakan kepalanya, terkejut. “Aku tidak tahu harus membalas kebaikanmu dengan apa,” ia menggigit bibir bawahnya. “Kau seperti…, malaikat?” ucapnya, seulas senyuman terlukis di wajah cantiknya, membuatku ikut tersenyum.

‘Kau tidak perlu membalasnya,”

Dia terdiam lalu menatapku lagi, “kau begitu baik Sehun, bahkan terhadap pelayan sepertiku,” ucapnya. “Terimakasih, aku sangat sangat sangat sangaaaaaat berterimakasih,” tambahnya, seulas senyum tersungging di wajah cantiknya itu.

Aku tertawa kecil, kuberanikan diriku untuk merangkulkan lenganku di bahunya kemudian menariknya ke dalam pelukanku, kuelus rambut coklatnya, “my pleasure,”

.

.

.

“Kau sudah membuatku malu, Nona muda,” itulah suara terakhir yang kudengar sebelum wanita yang biasa dipanggil Madam Ty itu melangkahkan kakinya keluar dari kamar Selina. Jangan tanya aku dimana, aku sedang mengintip dari tembok yang berada di samping kamar Selina. Maksudku ke sini tadi untuk—ehm—menemui gadis itu, ternyata wanita tua galak itu sedang memarahinya, samar samar aku dapat mendengar suara cambukan.

Setelah kupastikan Madam Ty sudah menuruni tangga, aku langsung menyelinap masuk ke kamar Selina. Gadis itu terduduk, kepalanya menunduk sehingga rambut cokelatnya jatuh tergerai, tangan kirinya terangkat memegangi bahu kanannya. Selina tidak menyadari kehadiranku sama sekali, kuberanikan untuk memanggilnya.

Spontan, Selina langsung mendongak dan membelalakkan matanya ketika mendapatiku yang masuk dengan seenaknya ke kamarnya. Aku tersenyum kecil, “maaf, aku hanya mau mengunjungimu,”

Dia menggeleng cepat. “Maksudku, bagaimana bisa kau bisa sampai ke sini? Ada Madam Ty barusan,” tangan kirinya yang tadi memegangi bahu kanannya terkibas, menyuruhku masuk.

Aku duduk di sampingnya, di lantai kamar kecilnya yang dingin. “Kau.., tidak apa apa?” tanyaku, kulihat matanya memerah, mungkin menahan air matanya yang akan merebak keluar karena ia sedang menahan sakit.

“Aku tidak apa apa, yah.., sedikit,” jawabnya, ia merapikan anak rambutnya yang terjuntai ke depan, hampir menutupi wajahnya.

“Benarkah? Kau tampak tidak baik baik saja,”

Gadis ini berbohong, dia salah besar kalau dia mengira aku tidak bisa melihat lebam yang tercetak jelas di permukaan kulit lengannya, dia mengenakan kaos lengan pendek dan aku tidak dapat mengabaikan lebam kebiruan itu.

“Ini yang kau sebut dengan baik baik saja?” aku menyentuh lebamnya pelan, kemudian menatapnya tepat di manik mata.

Selina menggigit bibir bawahnya, “tidak separah itu kok,” kilahnya.

Aku menghembuskan napasku. Dia benar benar tidak mau orang lain mengasihani dirinya, dan aku tidak bisa tidak peduli dengannya. Hening menyelimuti kami berdua, hey kalau dipikir pikir ini adalah pertama kalinya kami berdua mengobrol secara, pribadi? Oke, akulah yang lancang menemuinya duluan, dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku hanya mengikuti kata hatiku, dan hatiku berkata aku sangat ingin melihat wajahnya, secara tidak langsung dia sudah menjadi canduku.

“Aku tahu itu sakit,” ucapku. Dia langsung menundukkan kepalanya begitu aku mengucapkan kalimat tadi, apakah begitu menyinggungnya? Yang jelas sekarang aku merasa bersalah karena sekarang bahunya bergetar dan itu menandakan kalau ia sedang menangis.

“Aku tidak terbiasa menangis di hadapan orang lain, maaf,” ucapnya serak, wajah cantiknya tetap tidak mau melihatku, dia tetap menunduk.

Aku menghembuskan napas berat, “tidak apa apa, kau bisa menangis sepuasnya sekarang, setelah itu aku akan mengobatimu. Mengerti?” aku menarik bahunya, mengusap usap bahu Selina, kemudian merengkuhnya ke dalam dekapanku. Aku memeluknya erat seiring dengan isakan nya yang makin terdengar, sepertinya ia menumpahkan segala kesedihannya dalam satu kali tangisan, bisa kurasakan kaos yang aku pakai sekarang basah di bagian dada.

“Aku—maafkan aku, tidak seharusnya aku seperti ini,” kata gadis itu—masih dengan suara seraknya—dan tak lama kemudian ia melepaskan pelukanku dan mengusap kedua matanya yang—sepertinya—masih berair. “Terimakasih,” katanya.

“Sudah aku bilang tidak usah sungkan,” jawabku. “Mana salep yang Aiden berikan padaku waktu itu?” tanyaku.

Dia menunjuk meja yang terletak tidak jauh dari tempat tidurnya dengan dagu, “di sana,”

Aku meraih salep itu dan mengoleskan sedikit pada tanganku.

“Aku bisa sendiri kok,” dia langsung menolak kala jariku sudah hampir menyentuh kulit lengannya.

“Lagipula—hey, Sehun…, kenapa lebam di lenganku tinggal sedikit? Bukannya tadi—” suara Selina tercekat ketika menyadari lebam lebam yang ada di tangan kanannya sudah menghilang separuh, tinggal sedikit di dekat siku. Selina mencoba mengayunkan tangannya dan ia terkaget, bahkan tangan kanannya sudah tidak merasakan sakit yang luar biasa seperti tadi. Sekarang ia beralin ke tangan kirinya—sama, lebam di tangan kirinya bahkan sudah hilang semua.

“Apa yang terjadi?” tanyaku ikut keheranan melihat lengan Selina yang kembali mulus dari lebam lebam kebiruan itu, ini…., ‘keajaiban’?

“Perkataan Jessica benar,” ucap Selina pelan, ia menatapku dengan mimik muka tak percaya. Jessica? Gadis di kelasku? Apa yang dia katakan pada Selina?

“Aku…, bisa healing?” sambung Selina tampak ragu dengan pernyataan nya tersebut. Healing? Wow, kekuatan itu bukanlah kekuatan biasa, dan Selina memiliki kemampuan itu? Dia memang gadis yang luar biasa.

“Kau menyembuhkan dirimu sendiri,” tandasku. “Apa tadi kau melakukan sesuatu? Seperti mengusap ngusap lenganmu?” tanyaku.

Ia mengangguk.

“Tetapi, Sehun…., aku mana bisa mempunyai kemampuan seperti ini, kemampuanku sudah di kunci oleh Madam Ty,”

“Mungkin kemampuan ini baru muncul, Sel. Jadi yang dikunci oleh Madam Ty adalah kekuatan dasarmu,” ujarku.

Gadis cantik di depanku ini masih saja menatapku dengan ekspresi tidak percayanya, “jadi aku bisa…, healing?”

Aku mengangguk. “Dan kemampuan itu harus terus dilatih agar kau juga bisa menyembuhkan orang lain,”

Sekarang ia tersenyum, senyuman lembut itu…., hah sepertinya organ vital di dalam tubuhku berhenti berdetak setiap melihat senyum malaikat miliknya itu. “Akhirnya aku bisa melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain,”

Aku mengerutkan dahiku, “maksudmu?”

“Yah…., setidaknya aku tidak terus terusan membebani orang lain. Seperti Aiden, Madam Ty, dan yang lain nya. Mungkin sebentar lagi kau akan merasa terbebani karena dekat denganku, Sehun,”

Aku menatap kedua manik matanya lurus lurus, “jangan merasa kau ini seorang parasit, Selina. Jangan bersikap seperti itu terus, dan…., jangan terlalu tertutup pada orang orang di sekitarmu, mereka peduli, termasuk aku. Jangan sungkan sungkan padaku,”

“Sehun…., kenapa kau…,”

“Sssst, jangan tanyakan itu lagi. Kau akan tahu nanti dengan sendirinya,” potongku cepat, ku abaikan tatapannya yang begitu menuntut. “Sudah larut, kapan kapan aku kembali lagi,”

“S—Sehun…,”

Dengan cepat aku berjalan menuju pintu sebelum Selina menghujaniku dengan pertanyaan pertanyaannya.

.

.

.

Author’s pov

“Hari ini kau tidak perlu mengantarkan sarapan, Sel. Tadi Madam Ty bilang begitu,” ucap Aiden ketika gadis yang dibalut dress selutut warna abu itu menghampiri dirinya yang sedang memasak mie hitam. Selina mengangguk, “jadi apa yang harus aku lakukan? Membantu Alice?” tanyanya, ia berdiri di samping Aiden, memperhatikan kelihaian pria itu dalam memasak, tidak bisa diragukan lagi kelihaiannya.

Aiden mengangkat bahunya, “madam Ty tidak berkata apa apa, mungkin ia sedang berbaik hati, uhm? Sehingga kau dibebas tugaskan,”

Selina tersenyum kecut mendengar perkataan Aiden. “Tidak mungkin, tadi malam ia baru saja mengamuk di depanku,”

Aiden yang terkejut langsung menatap ‘adik’nya itu, “apa yang ia lakukan? Apa rotannya ikut ‘mengamuk’?”

“Ya, begitulah. Dia memarahiku karena saat hari libur kemarin aku bermain bersama murid Xyn. Asalnya dia mau mencambukku saat jam istirahat, tetapi….,” Selina menggantungkan kalimatnya.

“Tetapi apa?”

“Sehun datang dan menarikku,”

Aiden langsung mengeluarkan kekehannya, “Sehun? Aduh, adikku sekarang sudah besar ya. Sebentar lagi mendahuluiku, nih,” goda Aiden.

“Ya, apa apaan sih, aku dan Sehun tidak ada hubungan apa apa,” tukas Selina, Aiden dapat melihat wajah Selina yang sudah merona sekarang.

“Memangnya tadi aku bilang kalau kau dengan Sehun sedang dalam hubungan? Uhm?” goda Aiden lagi membuat warna wajah Selina menyaingi warna kepiting rebus yang di masak Aiden tadi malam.

Selina baru saja memutar otaknya untuk mencari penjelasan yang tepat, untungnya Nana datang menghampiri mereka berdua.

“Hai Aiden! Hai Selina,” sapanya perempuan berambut blonde itu riang. Selina tersenyum dan balik menyapanya, sedangkan Aiden memalingkan wajahnya menatap Nana sekilas sambil tersenyum.

“Madam Ty menyuruh kita memandikan kuda kuda, Sel,” jelas Nana. “Ayo,” katanya sambil menarik tangan Selina dan menyeretnya keluar dari dapur Xyn yang besar itu.

.

.

.

“Ya, blossom, kenapa kau tidak bisa diam?” Selina menggerutu saat memandikan kuda berwarna putih salju tersebut, busa yang ada di tubuh Blossom terciprat kemana mana karena kuda itu menggerakan badannya ke kiri dan kanan terus, tidak bisa diam.

“Kau tahu namanya dari mana, Sel?” tanya Nana yang sedang menggosok kaki kuda berwarna cokelat dengan heran karena setau Nana, ini pertama kalinya Selina berkutat dengan kuda kuda yang ada di Xyn Academy.

“Uhm, aku baru tahu saat hari libur kemarin,” jawabnya jujur, “murid Xyn yang memberitahunya kepadaku,”

Nana langsung menatap Selina—menghentikan aktifitasnya yang tadinya sedang menggosok kaki kuda itu—”kau berteman dengan mereka?” tanyanya.

Mendadak Selina menjadi kikuk, “aku…, hanya dekat dengan mereka,”

“Siapa, Sel?” tanya Nana penasaran.

“Eung, Baekhyun—tetapi aku juga dekat dengan Cassie, Tiffany, dan Jessica juga kok,” katanya cepat.

Nana tambah kaget mendengar jawaban Selina, “Baekhyun? Murid tampan itu? Yaampun, dia kan murid unggulan Xyn, Sel! Kau berteman dengannya? Wow, kau hebat!” ucap Nana bertubi tubi, excited.

Selina hanya bergumam mendengar ucapan Nana itu, mereka berdua kembali sibuk memandikan kuda yang ternyata gampang gampang susah. Selina melirik Nana, gadis itu masih serius menyisir rambut kuda cokelat itu.

“Nana, aku ingin bertanya sesuatu padamu,” akhirnya Selina membuka suaranya.

“Ya? Apa itu?”

“Kau kan sudah berpacaran dengan Mir sejak lama…,” kata Selina menggantung, “jadi…, kurasa kau mengerti tentang ini,” sambungnya.

Nana langsung menangkap arah pembicaraan mereka, dia tersenyum penuh arti, “apa yang ingin kau tanyakan, Selina? Aku akan menjawabnya sebisaku,”

Selina menggigit bibir bawahnya terlebih dahulu sebelum mengajukan pertanyaannya, “jatuh cinta itu…, seperti apa?”

Nana tersenyum kemudian menarik napas dalam.

“jatuh cinta itu terjadi secara spontan, tidak dipaksakan, dan cinta juga datang begitu saja, seenaknya, perumpamaannya ya seperti kau sedang berdiri dan tidak melakukan apa apa lalu sesuatu datang begitu saja,”

“Sebenarnya cinta tidak datang dengan kata kata, namun datang dengan hati. Cinta juga hadir dengan pengorbanan dan kesetiaan, Sel,”

Nana melirik Selina, “bagaimana? Ada lagi?”

“Bisakah kau…, memberitahuku lebih banyak?”

Nana kembali tersenyum. “Baiklah, akan aku berikan contoh sederhana,” ia menarik napas lalu menatap Selina yang serius memperhatikannya, “misalnya saat kau sedang bersamanya mungkin kau mengabaikannya, tetapi saat dia tidak ada, kau pasti akan mencarinya,”

“Lalu…, walaupun banyak orang yang membuatmu tersenyum, dan tertawa, perhatianmu hanya terpaku pada orang itu saja,”

“Dan di saat kau mencoba meyakinkan dirimu bahwa seseorang itu hanyalah seorang teman bagimu, tetapi tetap saja kau tidak bisa menghindari pesonanya,”

Kini Nana menatap Selina dengan tatapan serius, “dan jika pikiranmu tertuju pada seseorang ketika kau mendengarkan penjelasanku tadi, itu berarti sekarang kau sedang jatuh cinta, pada orang itu.”

Selina menundukkan kepalanya, ia memang sedang memikirkan seseorang saat ini.

“Jadi beritahu aku, siapa orang itu? Baekhyun? Atau..?

.

.

.

Selina melambaikan tangannya pada Nana yang berbelok ke kanan, ke arah dapur. Sementara dirinya terus berjalan lurus. Ternyata jam istirahat sudah tiba, murid murid langsung berhamburan ke luar dari kelas masing masing.

“Selina!”

Gadis itu langsung menolehkan kepalanya ke arah sumber suara yang memanggilnya kemudian tersenyum. “Hai,” Selina membalas sapaan orang itu.

“Aku mempunyai kejutan untukmu!” seru Cassie riang, yang diikuti anggukan dari Jessica dan Tiffany, kedua perempuan yang senantiasa menempel pada Cassie.

Selina menaikkan satu alisnya, “kejutan? Memangnya ada apa, Cassie?” tanyanya heran, tentu saja heran, Cassie tiba tiba datang, tak ada angin dan tak ada badai pula dan ia langsung mengatakan bahwa ia punya kejutan untuk Selina.

Cassie hanya tersenyum, “tidak ada apa apa. Ini hanya simpatiku dan kedua temanku, Jessica dan Tiffany. Kau mau melihatnya? Ayo kita ke kamarmu!’ jelasnya kemudian menarik tangan Selina, hingga mereka berempat berjalan menuju kamar Selina yang berada di loteng. Jessica dan Tiffany berjalan di belakang sambil mengobrol, sedangkan Cassie dan Selina berjalan berdampingan di depan mereka, tanpa mengobrolkan apapun. Walaupun Selina sudah pernah bermain bersama dengan mereka saat hari libur kemarin, tetapi tetap saja mereka belum terlalu dekat. Lagipula sekarang gadis yang berjalan di samping Cassie itu sibuk menerka nerka kejutan macam apa yang disiapkan Cassie untuknya. Akhirnya setelah melewati satu persatu anak tangga, mereka sampai di depan pintu kamar Selina yang tertutup.

“Jess, tutup mata Selina, aku akan membukanya,” suruh Cassie. Jessica langsung mendekati Selina dan menutup  kedua mata gadis itu dengan kedua tangannya.

“Kau siap, Sel?” tanya Tiffany yang berdiri di samping Jessica, sedangkan Cassie mulai membuka pintu kamar kecil itu, mereka bertiga menuntun Selina masuk ke dalam.

“Buka matanya sekarang,” komando Cassie yang langsung dituruti oleh Jessica.

Selina mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan mulut menganga. “Ini, kamarku?” tanyanya, sama sekali tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.

Kamar kecil bobrok itu kini sudah di sulap menjadi kamar barbie, sungguh. Dinding yang catnya sudah memudar sekarang tergantikan dengan wallpaper berwarna pink manis, kasur tipis yang menjadi tempat tidur Selina sekarang sudah tidak ada di tempatnya, yang ada di sana adalah single bed, dengan seprai warna pink muda, yang Selina yakini akan sangat empuk apabila ia merebahkan tubuhnya di sana. Di sisi kanan kamar kecil itu, sebuah lemari berwarna putih sudah berdiri kokoh, dan di sisi kiri kamarnya, di dekat jendela, sebuah meja dengan warna senada dengan lemari tadi sudah terletak di sana. Kamarnya seratus persen berbeda dengan yang sebelumnya, walaupun ukuran kamarnya masih sekecil yang dulu, tetapi isi kamarnya sudah diganti dengan barang barang yang lebih layak, sangat layak malah. Bahkan, di lantai dekat tempat tidur empuk itu sudah terselimuti karpet dengan bulu bulu yang halus.

Selina memalingkan wajahnya, menatap Cassie takjub. “Kau? Bagaimana bisa, Cassie Ahn? Ini benar benar kejutan,” ucapnya pelan, ia maju beberapa langkah, memastikan ini semua adalah nyata, bukan fana semata.

“Kau senang Selina? Aku menyuruh ayahku untuk merubah kamarmu,” ujar Cassie. Kau lupa perihal ayah Cassie? Casey, Casey Kim. Dia adalah salah seorang petinggi di Xyn, dia juga mempunyai kuasa atas Xyn Academy ini, jadi untuk melakukan ini bukanlah hal yang mustahil.

Tersentuh. Selina benar benar merasa tersentuh dengan perbuatan Cassie, padahal mereka baru saling mengenal dan Cassie sudah sebaik ini kepadanya?

“Cassie, aku sangat  berterimakasih,” ucap Selina. “Kau, begitu baik,” sambungnya sambil tersenyum.

Cassie balas tersenyum, “tidak apa apa, ini semua aku lakukan untuk kebaikanmu juga, Selina. Aku senang kalau kau merasa senang,” gadis berambut pirang itu memeluk Selina.

“Terimakasih,” Selina membalas pelukan Cassie, “aku tidak tahu harus membalas segala kebaikanmu dengan apa,”

“Aku dan Tiff juga senang jika kau bahagia, Selina.”

Selina menatap Jessica kaget, Jessica yang biasanya bersikap angkuh bahkan juga bersikap ekstra baik kepadanya.

“Aku—aku, terimakasih sudah mau menjadi temanku,” Selina tersenyum cerah dan menatap ketiga gadis itu bergantian, semoga persahabatan mereka tetap terjalin sampai kapanpun.

.

.

.

Tok tok tok

Selina baru saja bersiap untuk tidur, mencoba sensasi empuk dari tempat tidur barunya yang mewah, tetapi niat itu harus ia tepis karena seseorang di luar sana mengetuk pintunya, di jam selarut ini.

Dengan hati hati Selina membuka pintu kamarnya dan jantungnya langsung berdegup tidak karuan melihat sosok lelaki yang berdiri di sana. Lelaki itu tersenyum manis, yang mampu melelehkan hati Selina dalam beberapa detik.

“Hai, Selina,”

Akhirnya lelaki bernama Oh Sehun itu mengeluarkan suara beratnya, menyapa Selina yang masih terpaku dalam posisinya.

“Eh hai, Sehun,” dengan senyum khas orang salah tingkah, Selina membalas sapaan itu.

“Maaf berkunjung malam malam,” ujar Sehun. “Aku hanya ingin melihatmu,” lanjutnya yang langsung membuat Selina melayang.

“Ah tidak apa apa, ayo masuk,” Selina membuka pintunya lebar agar Sehun bisa masuk, setelah lelaki berambut emas itu masuk, barulah Selina mengekori dan menutup pintu kamarnya.

Sehun membeku di tempatnya, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan pandangan takjub. Ia menolehkan kepalanya ke belakang, menghadap Selina. “Ini.., kamarmu?” tanyanya ragu.

Selina mengangguk, “Cassie baru saja merombaknya,” jawabnya.

“Cassie—Ahn?”

Selina mengangguk untuk yang kedua kalinya, “iya, Cassie Ahn yang sekelas denganmu, Sehun.”

“Kau berteman dengannya? Bagaimana bisa dia…?” tanya Sehun penasaran melihat kamar Selina yang sudah berubah drastis.

“Iya. Aku juga tidak tahu, dia bilang ini kejutan,”

Kali ini giliran Sehun yang mengangguk. Lelaki itu berjalan mendekati jendela dan memandangi langit dari jendela yang ada di kamar Selina itu.

“Bintangnya indah,” ucapnya pelan yang membuat Selina berjalan mendekat dan ikut melihat bintang bintang yang bertebaran di atas sana, langit cukup cerah malam ini.

“Kau mau melihatnya dari luar?” tawar Sehun, masih dengan pandangan yang menerawang ke atas sana.

“Dari—luar? Kita harus turun lagi?” tanya Selina bingung.

Sehun menggeleng, ia menolehkan kepalanya ke arah Selina—yang sedikit lebih pendek darinya—kemudian tersenyum lembut, “kita lihat dari atap sana,”

Dahi Selina berkerut samar, “tapi…, bagaimana bisa? Caranya?”

“Bisa dengan kemampuan anginku, ayo, aku kan punya permadani angin,”

“Apa itu…, aman?” tanya Selina polos, mengundang tawa kecil dari mulut Sehun, “tentu saja aman, kau harus percaya padaku,” ujarnya, lalu lelaki itu membuka jendela kamar Selina selebar mungkin sehingga mereka berdua bisa keluar lewat sana. Gadis itu bergidik ngeri saat melihat ke bawah, tinggi sekali.

Sehun mulai melangkah keluar, ia menarik napas dalam dalam sehingga angin berkumpul di satu titik dan mulai membentuk ‘permadani’ di dekat jendela tersebut, lelaki itu seolah berjalan di atas udara. Ia menatap Selina yang masih berada di dalam kamar, Sehun mengulurkan tangannya pada gadis itu, “ayo, ini aman kok, kita tidak akan jatuh,”

Dengan takut takut Selina meraih tangan Sehun dan memanjat jendela kamarnya, ia melangkahkan kakinya ke permadani angin tersebut dan memandang Sehun takjub. “Ini keren, seperti melayang di udara,” katanya sembari tertawa kecil.

Permadani itu pun membawa mereka ke atap.

“Turun?”

Sehun melangkah duluan, di belakangnya Selina mengekori sampai akhirnya mereka berdua sudah terduduk di atap Xyn Academy. Langit malam terekspos jelas dari situ.

“Indah sekali,” ucap Selina sambil menengadahkan kepalanya. Sehun memandangi wajah gadis itu, ujung bibirnya terangkat tanpa alasan yang jelas.

“Hey kenapa kau memandangiku seperti itu?” Selina memalingkan wajahnya ke arah Sehun, kentara sekali kalau ia salah tingkah dipandangi oleh lelaki beriris hitam itu sebegitu intensnya.

“T-tidak, aku hanya sedang mengamati bintangku,” jawab Sehun disertai senyum lembutnya yang mampu memacu detak jantung Selina untuk bekerja lebih maksimal dari biasanya.

Selina langsung menundukan wajahnya yang mulai merona, ia memeluk kakinya lantas menyandarkan wajahnya di atas lututnya. Sehun yang melihat itu langsung merasa khawatir, ia kira Selina kedinginan. “Kau kedinginan? Maafkan aku, aku lupa kalau malam ini berangin,”

Selina mendongak, ia gelengkan kepalanya, “tidak. Aku tidak kedinginan, Sehun,”

“Ya, kau ini, jelas jelas malam ini anginnya lumayan kencang,” Sehun berdecak kemudian melepaskan jaket berwarna biru tua yang ia kenakan kemudian menyampirkannya di bahu Selina.

“Pakai,” perintahnya.

“Aku tidak kedinginan,” kilah Selina.

Sehun menghelakan nafasnya sedangkan Selina hanya tersenyum innocent. Ia langsung mengangkat tangannya dan menarik bahu Selina sehingga jarak mereka menipis. Sehun merangkul Selina.

“Makanya jangan rewel,” kata Sehun, wajahnya tetap memandang lurus ke depan, pura pura bersikap biasa.

“Ya, sudah aku bilang aku tidak kedinginan, Sehun.” gadis itu merengek, wajahnya kini tepat berada di dada bidang milik Sehun, rasanya semua darah yang ada di tubuhnya langsung berkumpul di wajahnya yang memanas.

Sehun menarik Selina lebih dekat, ia memiringkan kepalanya sedikit sehingga pipi kanannya menyentuh rambut halus Selina. Tangan kanannya tanpa dikomando menggenggam tangan kiri Selina hingga jemari mereka saling bertautan.

“Sudah lebih hangat?”

“S-sudah,” jawab Selina terlampau gugup.

Sehun terkekeh menyadari rasa gugup yang ia tangkap dari perkataan Selina tadi, padahal sendirinya juga sama saja.

“Kenapa tadi pagi aku tidak melihatmu di ruang makan? Kemana kau?”

“Tidak kemana mana, bukan giliranku untuk mengantarkan sarapan pagi tadi,” jelas Selina, kini ia sudah bisa mengatur nada bicaranya dengan cukup apik.

“Oh, jadi kemana saja kau seharian tadi? Aku juga tidak melihatmu saat istirahat,”

“Aku disuruh memandikan kuda kuda Xyn,”

“Pantas saja seharian ini aku tidak melihat gadis ceroboh itu.” ia terkekeh pelan, jemarinya iseng memainkan jemari Selina.

Selina kontan mendongakkan kepalanya, membuat keningnya secara tidak sengaja menyentuh pipi kanan Sehun, mata mereka bertemu.

“Aku tidak ceroboh,” sungut Selina. Sedikit menyesali tindakannya tadi yang membuatnya harus bersentuhan dengan lelaki itu.

“Kau ceroboh,”

“Aku tidak ceroboh,”

“Kau ceroboh, Sel,”

“Aku tidak ceroboh, Sehun,”

“Kau iya,”

“Aku tidak,”

“Tapi kecerobohanmu itu justru membuatku ingin melindungimu,”

“Aku tid—apa?” Selina mendongakan kepalanya dengan hati hati agar kejadian tadi tidak terulang, mengerjap kerjapkan matanya, otaknya belum mencerna omongan Sehun.

“Ah, lupakan.”

Selina mengerutkan keningnya, pipinya menggembung kesal. “Jadi kau main rahasia rahasiaan? Oke,” ia mencoba melepaskan jemarinya yang sedaritadi masih tertaut dengan jemari Sehun, merajuk.

“Aish, Sel. Kau ini,” Sehun menghembuskan napasnya sebelum kembali berkata kata.

“Kecerobohanmu itu justru malah membuatku ingin melindungimu.”

“A-apa?” tanya Selina tak percaya.

“Aku akan mengatakan ini sekali saja, jadi kau harus mendengarkannya dengan hati hati. Ok?”

Selina mengangguk, masih dalam posisi kepala yang menyandar ke dada Sehun.

“Sejak dulu, sejak Madam Ty pertama kali membawamu ke dalam kelas sebagai asistennya, aku sudah memperhatikanmu.”

“Awalnya aku mencoba tidak peduli saat aku mendengar bisik bisik di kelasku, tentangmu yang selalu di’siksa’ oleh Madam Ty,”

“Saat aku ingin mengabaikan desas desus itu, aku melihatmu sedang berjalan sendirian berjalan di lorong, kau limbung. Untungnya ada Aiden yang sigap menolongmu, jadi aku berpikir untuk mengabaikanmu, karena sudah ada Aiden yang selalu ada untukmu, ku kira dia pacarmu.” Sehun berdehem. “Tetapi waktu aku melihatmu tertidur dengan wajah lelah di kamar Cassie Ahn, aku tak bisa tidak mengabaikanmu. Dari sana aku mulai menolongmu, walaupun kau tidak menyadarinya,”

“Kukira ini hanya sekedar perasaan kasihan, tapi ganjil rasanya karena sebelumnya hatiku benar benar beku, tidak peduli dengan keadaan sekitar,”

“Tapi ternyata setelah akhir akhir ini aku dekat denganmu, aku…,” Sehun menggantungkan kalimatnya. “Ternyata aku melakukan semua itu karena aku mencintaimu, Selina Shin.”

Sehun menghembuskan napasnya. Antara gugup dan juga lega, pengakuannya sudah selesai. Sekarang tinggal melihat reaksi Selina. Gadis itu terdiam, perlahan kepalanya ia dongakkan untuk menatap Sehun, mencari cari kesungguhan di bola mata beriris hitam milik Sehun. Sejurus kemudian Selina tersenyum hangat, “kau serius mengatakannya?”

Sehun memalingkan wajahnya ke segala arah—salah tingkah, ia tersenyum malu malu. “Tentu saja aku serius.”

Selina mengangguk dengan wajah yang masih merona, untungnya gelapnya malam mampu menyembunyikan pipinya yang bersemu itu. Ia mencoba tenang, menggigit bawahnya kala ia merasakan rasa senang yang membuncah dari dalam relung hatinya.

“Sehun, aku—”

“Tidak perlu sekarang, kau bisa menjawabnya nanti, kapanpun. Aku akan menunggumu,” potong Sehun cepat kemudian berdiri, mengajak Selina untuk kembali masuk ke dalam.

.

.

.

Gadis berambut cokelat gelap itu melangkah pelan keluar dari ruangan makan yang sudah mulai dipadati oleh murid murid yang bersiap untuk menyantap sarapan masing masing setelah beberapa pelayan mengantarkan menu makan pagi untuk mereka semua. Senyumnya merekah ketika mendapati Nana yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya lalu ia melanjutkan langkah kakinya, kembali ke dapur untuk menemui Aiden. Tapi sepertinya niat itu harus ditunda karena seseorang memanggilnya, membuat gadis itu langsung menoleh ke belakang.

“Selina Shin,” ucap lelaki itu agak lirih, ia memeluk Selina dari belakang ketika jarak mereka sudah menipis. “Aku merindukanmu,” gumamnya tepat di telinga Selina yang bertubuh lebih pendek darinya.

Selina yang mendapat perlakuan yang begitu tiba tiba hanya bisa membeku dan membiarkan lelaki bernama Baekhyun tetap memeluknya erat.

“B—Baekhyun, lepaskan aku,” ucap Selina pelan.

“Sebentar. Biarkan begini sebentar saja, aku merindukanmu, sangat. Kemana kau kemarin?” tanyanya, masih memeluk Selina dari belakang.

“Kemarin? Bukan giliranku untuk mengantarkan sarapan, Baekhyun.” ujarnya.

Baekhyun melepaskan pelukannya kemudian memutar tubuh Selina hingga gadis itu berhadapan dengannya.

“Jangan coba coba menghilang lagi, aku bisa gila karena tidak melihat wajahmu itu, Sel…, aish. Aku sudah terlalu mencintaimu,”

Selina membulatkan matanya mendengar perkataan yang baru saja meluncur dari mulut Baekhyun, “a—apa?”

Baekhyun lantas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal samasekali, ia kelepasan. Tetapi sejurus kemudian ia langsung menatap Selina dengan mimik serius, “aku mencintaimu, Selina. Aku mencintaimu.” katanya tegas, memutuskan untuk mengakui perasaannya sekarang juga karena ia sudah terlanjur kelepasan berbicara tadi.

Selina melangkah mundur ke belakang saking kagetnya dengan pengakuan Baekhyun. Bahkan belum 24 jam sejak Sehun menyatakan cinta padanya.

“Ada apa? Kenapa kau seperti itu?” tanya Baekhyun heran, “apa seseorang sudah mendahuluiku?” selidiknya.

Seseorang yang berambut emas yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka berdua dari balik tembok langsung keluar dari tempat persembunyiannya tersebut, berjalan mendekati Baekhyun dan Selina yang terkesiap dengan kedatangannya.

“Ya, aku yang mendahuluimu, Baekhyun.”

“Sehun? Kau…,” speechless, Baekhyun tidak tahu harus berkata apa lagi, Sehun yang selama ini terkenal begitu pendiam?

Baekhyun memalingkan kepalanya menatap Selina, “jadi siapa yang kau pilih Selina?”

TBC ^^

22 comments on “Love Warrior — Trip 5

  • keren…akhirnya di post juga,, tapi Baekhyun Confession kayaknya gag kecepetan nih? hehe…

    always wait 4 the next chapter..
    Hwaiting!

  • Walopun gw suka baekhyun. Tapii gw lebih setuju selina sama sehun. Karakter nya sehun ngenaa banged.. Ditunggu Trip selanjutnya.. Jangan lama lama yahh.. ˆ⌣ˆ‎‎​

  • Kya… Envy berat sama Selina..#teriak2 gaje
    Q juga mau ditembak ama Sehun&Baekhyun.. kekeke

    Lanjut Chap berikutnbya.. Btw kyknya bagusan Selina sama Sehun deh.. Trus si bapak2 dipenjara kok gak dicertain di chapter ini ya?#penasaran

  • keren ^^ ditunggu lanjutannya loh😀 selina sama sehun aja >< terus baekhyunnya sama aku (?) sekali lagi ff nya keren!! aku tunggu lanjutannya loh ^^

  • Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: