Love Warrior — Trip 4

Published June 23, 2012 by GaemShal♥ (shalsasya)

Author: Shalsasya

Main Cast:

  • Oh Sehun
  • Byun Baekhyun
  • Selina Shin

Support Cast:

  • Madam Ty
  • EXO member

Guest Cast:

  • SNSD Jessica Jung
  • SNSD Tiffany Hwang

Genre: AU, Fantasy, Supernatural, Romance.

Rate: Teen

Length: Chaptered

Diclaimer: The story and plot are mine. Selina Shin and Cassie Kim are fictional characters, just belong to me. All cast except OCs aren’t mine. Credit poster goes to: Vira ^^

Previous Trip: {Teaser + cast introduce!} [TRIP – 1] [TRIP – 2] [TRIP – 3]

Back Song: Bigbang – Feeling, Monster | Luna ft. Krystal – Hard But Easy

“Selina,” panggil Cassie pelan yang membuat Selina menoleh, “ya?” tanyanya. Kini langkah Cassie dan Selina sudah sejajar, “apa hubunganmu dengan Baekhyun?”

Degg.

Selina menelan ludahnya lalu menoleh ke arah Cassie, “m—maaf?”

Cassie berdehem, ia mengulang pertanyaannya, “Kau mencintainya? Kau mencintai Baekhyun?”

.

.

.

[TRIP 4; CONFUSED?]

“Aku? Baekhyun?” Selina tergagap mendapat pertanyaan yang seperti itu secara tiba tiba. Lidahnya seolah kelu ketika hendak menjawab, apakah dia mencintai Baekhyun? Bahkan otak dan hatinya pun sedang tidak mau berkompromi saat ini.

“Tidak,” akhirnya jawaban itulah yang meluncur dari mulut Selina dengan terbata, padahal ia sendiri juga ragu dengan jawabannya tersebut.

“Benarkah?” Cassie menatap Selina dengan binar dimatanya, membuat Selina menelan ludahnya gugup.

“Iya,”

Cassie mengangguk anggukan kepalanya bersemangat, dia tidak tahu kenapa bisa sebahagia ini, saingannya berkurang satu, mungkin?

“Kalau begitu terimakasih ya, Selina!” ia melambaikan satu tangannya kepada Selina yang masih membeku di tempatnya.

.

.

.

“Menjalani hari dengan baik, Selina?”

Selina terkejut lantas menoleh pada asal suara, Aiden.

Ia mengangguk, “bagaimana denganmu, Aiden?”

“Cukup baik.” jawab pria itu singkat.

“Aiden, aku mau menunjukkan sesuatu,” bisik Selina, membuat satu alis Aidenterangkat sempurna, tidak biasa ‘adik’-nya seserius ini terhadap suatu hal.

“Apa itu?”

“Nanti saja kalau sudah di kamarku, ayo,”

.

.

.

“Tulisan siapa ini?” tanya Aiden setelah Selina menyodorkan dua buah kertas dengan tulisan yang berbeda, satunya yang waktu itu ia temukan di depan pintu bersama roti dan sekotak susu, yang satunya lagi ia robek dari buku catatan Sehun pagi tadi.

“Sehun,” jawab Selina, “menurutmu apakah kedua tulisan ini sama Aiden?”

Aiden bergeming, ia masih mengamati kedua buah kertas yang berada di tangannya, membaca tulisan itu kemudian menatap Selina, “sama persis,” desisnya.

“Jadi, Sehun yang mengantarkan sepotong roti dan sekotak susu waktu itu, Aiden?” tanya Selina masih tidak percaya, perasaan senang membuncah di dadanya tanpa alasan yang jelas.

Aiden mengangguk.

“Tapi bagaimana dia bisa mengetahui kamarku?”

Aiden tertawa, “kau harus menanyakan padanya besok, Sel.”

“Besok kan hari libur, Aiden.”

“Oh iya,” gumam Aiden, lalu ia menatap kertas itu lagi. “Sekarang kau mempunyai penggemar rahasia, Selina~” godanya sambil mencolek hidung mancung Selina.

Wajah Selina memerah, “yah diamlah, Aiden!” pekiknya malu.

.

.

.

“Selamat pagi!” Selina tersenyum riang pada Aiden yang sibuk membuat daging panggang.

“Pagi pagi begini sudah berisik,” Aiden menjulurkan lidahnya kemudian fokus kembali pada masakannya, “pasti gara gara lelaki bernama Sehun itu, ya?”

Selina menyembunyikan wajahnya di balik punggung Aiden ketika mendengar nama Sehun. Kenapa jantungnya berdegup kencang sekali, Mungkin wajahnya pun memerah saat ini.

“Apa rencanamu hari ini, Aiden?” Selina mengalihkan pembicaraan, menanyakan kegiatan apa yang akan Aiden lakukan hari ini dan besok. Murid Xyn Academy diberi jatah libur 2 hari, mereka bisa mengunjungi orangtua mereka, dan semacamnya, bebas. Begitu juga untuk para pelayan yang dibebastugaskan pada hari libur seperti ini.

“Aku akan mengunjungi makam adikku, Sel. Hari ini tepat 2 tahun meninggalnya,” ujar Aiden masih fokus dengan masakkannya.

“Adikmu?”

Aiden mengangguk, “Victoria, dia sangat mirip denganmu, Sel,”

Hening sejenak. Selina merasa dia membawa percakapan mereka ke jalur yang salah, lihat wajah Aiden sekarang, menjadi sendu. Mungkin ia teringat dengan Victoria.

“Kau mau kubuatkan sarapan juga?” tawar Aiden kemudian.

Selina menggeleng, “terimakasih, Aiden. Aku makan roti saja,” cengirnya yang membuahkan sebuah jitakan pelan dari tangan Aiden yang terkepal.

“Mau jadi apa kau sarapan dengan roti setiap hari? Badanmu sudah kurus begitu, Selina Shin,”

“Ayolah Aiden kau berlebihan, aku ingin makan roti pagi ini, aku mau menikmatinya sendirian di taman belakang, mumpung Xyn sedang sepi karena murid murid sedang pergi entah kemana,”

“Ya sudah, tetapi ambil 2 roti, 1 saja tidak cukup,” perintah Aiden yang dibalas anggukan Selina, lalu gadis itu melangkah keluar dari dapur.

.

.

.

Selina mencomot rotinya kemudian memasukkan makanan itu ke dalammulutnya, mengunyahnya seraya kedua matanya menyoroti sekeliling halaman yang tampak sepi. Sinar matahari pagi membanjur tubuh kecilnya, sedangkan burung burung kecil yang bertengger di dahan seakan bernyanyi untuknya. Inilah yang Selina cari, kedamaian, ketentraman. Setelah seminggu penuh disibukkan dengan pekerjaan di Xyn, akhirnya dia bisa menikmati suasana seperti ini pada akhir Minggu.

Setelah kedua rotinya habis, ia menyandarkan kepalanya di sebuah batang pohon yang tertanam di sana, matanya terpejam. Otaknya kembali mengulang momen momen yang terjadi bersama Sehun, tanpa bisa dikontrol.

Selina membuka matanya, “apa aku baru saja memikirkannya?” gumamnya pelan lebih kepada diri sendiri.

“Memikirkan apa?” suara berat yang ditangkap telinganya membuat Selina terlonjak dari duduknya yang tenang, ia memandang sosok itu kaget.

“Baekhyun?” tanyanya masih tidak percaya mendapati seorang pria tampan berdiri di hadapannya—malah sekarang sudah mengambil posisi duduk di sampingnya—rambut cokelatnya berkilau karena tertimpa sinar matahari, senyum yang terukir di wajah porselen itu seolah memberikan ketenangan.

“Selamat pagi,” sapanya sambil—lagi lagi—tersenyum pada Selina.

“Kau tidak berlibur, Baekhyun?” tanya Selina.

Lelaki itu ikut menyenderkan badannya di batang pohon yang sama dengan Selina, membuat bahu mereka bersentuhan dan membuat keduanya terasa seperti disengat listrik.

“Tidak. Aku sudah mengunjungi orangtuaku Minggu lalu,”

Selina mengangguk mengerti.

“Bagaimana denganmu, Selina?” tanya Baekhyun balik.

Selina menggeleng serta tersenyum kecut, “aku mau kemana? Aku tidak mempunyai siapapun lagi diluar sana,”

“Maaf—”

“Tidak apa apa. Kedua orangtuaku meninggal saat terjadi pemberontakan silam,” lanjutnya.

“Lalu kau tinggal sendirian, Selina? Kau sungguh gadis yang kuat,” secara tidak sengaja tangan Baekhyun terangkat mengelus rambut Selina, membuat gadis itu merasakan getaran di dadanya. Sensasi aneh yang ditimbulkan Baekhyun ketika menyentuh kulitnya. Merasa tidak ditolak, Baekhyun tetap membelai rambut coklat itu, mereka berdua terdiam dalam posisi seperti itu.

“Apa rencanamu hari ini?” tanya Baekhyun mencoba kembali mencairkan suasana.

“Aku tidak tahu,” jawab Selina apa adanya.

“Bagaimana kalau kita berkuda?”

Selina menggeleng cepat, “aku tidak bisa, Baekhyun.”

Baekhyun berdiri, dia mengulurkan tangannya pada Selina, “ayolah, akan aku ajarkan,” bujuknya lembut membuat Selina tidak bisa berbuat apa apa selain menggapai tangan Baekhyun—menerima uluran tangannya—kemudian mereka berjalan beriringan sambil bergandengan tangan, mengabaikan seorang pria berambut emas yang sudah mengamati mereka berdua sejak tadi dari jendela kamarnya yang langsung mengakses pemandangan taman belakang tersebut. Pria itu meringis, dadanya berdenyut melihat pemandangan yang menurutnya tidak mengenakkan.

.

.

.

“Kudaku ini namanya Blossom,”

Selina tertawa kecil, “imut sekali,” ledeknya. Ia memandang kuda yang disebutsebagai Blossom itu, kuda dengan kulit berwarna putih salju, mungkin tingginya 2 meter.

“Kau ingin naik yang mana, Sel? Blossom atau yang ini?” tanya Baekhyun sambil menunjuk satu kuda lagi, yang ukurannya lebih pendek dan kulitnya berwarna abu abu. Selina dengan yakin menjawa, “yang abu abu saja,”

“Kalau begitu silahkan naik,”

Selina menggembungkan pipinya, “aku tidak bisa sama sekali, Baekhyun. Berbeda dengan kau yang sudah pernah diajari mengendarai kuda oleh Madam Pearl,”

Baekhyun tertawa renyah, ia mengulurkan tangannya pada Selina, “aku bantu,” ujarnya. Dengan takut takut Selina menaiki kuda tersebut, untungnya kuda itu diam dan jinak.

“Jadi apa yang harus aku lakukan, Byun Baekhyuuun?” rengek Selina ketika sudah duduk sempurna di atas kuda itu.

“Kau tidak tahu caranya sama sekali?”

“Aku sudah mengatakan itu sejak tadi.” ucap Selina kesal.

“Kau hanya perlu tenang, jangan panik, dan berteman dengan kuda itu. Anggap dia adalah bagian dari hidupmu,” ujar Baekhyun.

Selina menarik napas dalam dalam, “lalu?”

“Jalankan,”

Selina menarik pelan tali yang ada di leher kuda itu pelan, berusaha mengubur rasa takutnya dalam dalam. Akhirnya kuda yang ia tunggangi berjalan pelan, sedangkan Baekhyun berjalan di samping Selina, sambil mengelus kuda abu abu tersebut. “Mudah kan?” tanyanya.

Selina mengangguk pelan, “yah, lumayan.”

Setelah mendengar jawaban tersebut, Baekhyun dengan jahil berhenti berjalan—membiarkan Selina menunggangi kudanya sendirian tanpa ia temani—Selina menoleh ke belakang, “ya, Baekhyun! Kenapa diam?”

“Untuk apa aku menemani orang yang sudah mahir menunggangi kuda?” cibir Baekhyun, tangannya ia lipat di dada, matanya terus saja menyorot Selina yang sedang mengendarai binatang berwarna abu abu tersebut.

Tapi tak lama kemudian kuda itu mulai berlari kecil membuat Selina memekik, “Baekhyun tolong aku!”

“Ya tenang saja kuda itu jinak, kok!”

“Baekhyun, tolong!” Selina mulai berteriak lagi ketika kuda tersebut sudah hilang kendali, Baekhyun segera menaiki kudanya yang bernama Blossom tersebut, mengejar Selina. “Tarik talinya!”

Dengan panik Selina menarik tali itu kuat kuat. Dan yah… Tahu sendiri apa yang terjadi, kuda itu berhenti mendadak. Membuat gadis cantik yang mengendarainya terjungkal ke belakang.

Baekhyun terkaget, ia cepat cepat turun dari kudanya kemudian menghampiri Selina yang terjatuh dalam posisi yang tidak mengenakkan. Selina meringis pelan membuat lelaki itu membantu Selina bangun dan memapahnya hingga ke pinggir lapangan, mendudukkan gaids itu di sana.

“Apa yang sakit?” tanya Baekhyun khawatir, ia menyibakkan rambut Selina yangmenutupi sebagian wajah gadis itu.

Selina melipat bajunya hingga sebatas siku, ia memperlihatkan kulitnya yang lecet pada Baekhyun. Lelaki itu memekik tertahan, “aduh, maafkan aku Selina, aku memaksamu tadi,” katanya dengan nada sarat rasa bersalah.

“Ayo kita masuk, akan aku obati kau,” ajak Baekhyun yang mendapat gelengan dari Selina. “Tidak usah, aku bisa mengobatinya sendiri di kamarku,” ucapnya.

“Tetapi celanamu juga kotor begitu,” rasa bersalah Baekhyun bertambah.

“tidak apa apa, aku bisa berganti baju, kan?”

“Kalau begitu aku ambilkan P3K di dalam, kau tunggu disini, ok?”

Baekhyun sudah siap berdiri ketika ketiga perempuan cantik menghampiri mereka, salah satunya membawa sebuah kotak bertuliskan P3K, “ini,” ucapnya.

“Cassie?” Baekhyun keheranan melihat teman teman perempuannya di hadapan mereka sekarang yang entah muncul darimana. Seolah mengetahui isi pikiran Baekhyun, Cassie membuka suara. “Tadi aku sedang berjalan jalan disekitar sini, dan melihat Selina terjatuh. Jadi aku langsung mengambilkan kotak P3K untuknya,” ia tersenyum kepada Selina.

Jessica—yang beridiri dibelakang Cassie—mendengus, “seharusnya kau tidak mengajak Selina mengendarai kuda, Baekhyun. Jelas jelas dia bukan murid disini,” katanya pedas.

Selina tersenyum kikuk, “ah, maafkan aku.”

“Memangnya lapangan ini punyamu? Lagipula kan ini hari libur,” kata Baekhyun, tangannya terulur untuk mengambil kotak yang berisikan  obat obatan tersebut dari tangan Cassie dan membukanya untuk mengambil alkohol, kapas, dan betadine. Sesaat sesudah Baekhyun menuangkan sedikit alkohol pada kapas, Cassie maju beberapa langkah mendekatinya. “Biar aku saja yang mengobatinya,” tawar Cassie dan langsung mengambil alih kapas yang sudah dibasahi alkohol tersebut.

Baekhyun tidak menolak, ia menyingkir sedikit agar Cassie bisa mengobati luka di kulit Selina dengan leluasa. “Kulitmu bagus ya, Selina,” komentar Cassie seraya mengoleskan betadine. Ia lalu bangkit dan mengamati lengan Selina yang baru tuntas ia obati, “selesai! Lukanya tidak parah dan tidak banyak kok,”

Baekhyun mendekati Selina, ikut melihat, dahinya berkerut samar. “Perasaan tadi lukanya banyak deh,” ujarnya. Selina mendongak, “iyaya, tapi buktinya cuma segini, nih.” tanggapnya.

Dibelakang Cassie, Tiffany menyeletuk, “ternyata Baekhyun perhatian ya,” dia tertawa kecil membuat Baekhyun salah tingkah, “tapi memang perasaanku tadi lukanya Selina tidak sedikit ini,” kilahnya.

Baekhyun menunjuk lengan atas Selina, “kurasa tadi ada goresan disini, tapi sekarang sudah tidak ada,” katanya lagi.

Selina tertawa kecil, “mungkin perasaanmu saja? Tidak mungkin kan luka itu hilang sendiri?”

Baekhyun menganggukkan kepalanya walaupun ia tetap merasa janggal. Jessica membuka suaranya, “kecuali kalau dia mempunyai kekuatan healing,” gadis itu mendengus.

Selina tertawa kecil, ia tidak yakin ia bisa mempunyai kekuatan lagi mengingat Madam Ty sudah mengunci kekuatan yang ia punya—eh, tapi bisa saja, kan?

“Bagaimana kalau kita bermaiin di lapangan sana?” ajak Cassie seraya menunjuk lapangan yang berada di arah barat dari tempat mereka dengan dagunya, “ayo Selina, kau juga!”

Selina terdiam, bingung.

Baekhyun tersenyum lalu menarik tangan Selina, “kau tidak boleh menolak, ayo!”

.

.

.

Selina dan Baekhyun berjalan berdampingan, keduanya tampak tertawa renyah satu sama lain. Seharian tadi mereka bermain bersama Cassie, Jessica, Tiffany, dan Suho. Entah apa yang dilakukan, memandikan blossom, atau sekedar berbaring di rerumputan. Seulas senyum terukir di wajah cantik Selina, ternyata Cassie tidak jahat seperti yang ia kira. Anak itu cantik, manis, dan baik hati. Malah, diantara Cassie, Jessica, dan Tiffany, Cassielah yang paling baik terhadap Selina. Terlebih lagi, ada Suho yang konyol, yang menurutnya sangat asyik untuk diajak bercanda. Dan tentunya ada Baekhyun yang senantiasa berada di sampingnya. Tapi… Rasanya ada yang kurang hari ini, mm, … Sehun?

Ya, Sehun. Seharian ini Selina tidak melihat lelaki tampan itu, sebuah rasa menggelitiki rongga dadanya, rindu? Ah, mustahil.

“Mau aku antarkan ke kamarmu, Selina?” pertanyaan Baekhyun membuyarkan lamunan Selina, gadis itu menoleh dan menggeleng. “Tidak perlu,” tolaknya, ia tersenyum.

Baekhyun menghentikan langkah kakinya, “kalau begitu, sampai jumpa, ya!” katanya.

Selina mengangguk, “ya, sampai jumpa,” balas gadis itu.

“Oh ya, mm, terimakasih untuk hari ini,” kata Baekhyun lagi sebelum lelaki itu berbalik dan menjauhi Selina. Selina tersenyum, kemudian ikut berbalik dan berjalan ke kamarnya.

.

.

.

Selina’s pov

Aku mengikat rambut cokelatku ke belakang. Sempurna. Suasana hatiku membaik akhir akhir ini, karena sudah 3 hari cambuk rotan Madam Ty tidak menyentuh tubuhku, dan beberapa alasan lainnya.

Aku membuka pintu besar yang ada di hadapanku, hendak mencari Aiden. Normalnya ia sedang berkelit dengan suatu masakan sekarang, namun pagi ini aku tidak melihat tanda tanda keberadaan lelaki itu. Celemek biru mudanya bahkan masih tergantung rapi, apa dia belum pulang?

Aku memasuki dapur dan kulihat Nana berjalan ke arahku, “Nana, kau melihat Aiden?” tanyaku padanya setelah aku berhasil mencegatnya.

Dia menggeleng, menyebabkan kepangan rambutnya bergoyang ke kiri dan ke kanan karenanya. Dia kemudian tersenyum, “mungkin dia belum pulang, Selina.”

Aku menganggukan kepalaku, “oke, terimakasih Nana. Maaf mengganggu,”

Dia menjawabku dengan seulas senyum, lagi lagi. Setelah melambaikantangannya, Nana hilang di balik pintu dapur.

Aku memutar kepalaku, menemukan senampan porsi lengkap tersaji di meja sana, sarapan untuk para tahanan. Aku mengambil salah satu dan meminta izin kepada Alice, “aku yang akan membawakannya untuk Paman Rob. Terimakasih,” ucapku, dan sebelum Alice menjawab aku sudah keluar dari ruangan ini.

.

.

.

“Agak berbeda,” komentar Paman Rob sebelum menegak secangkir air teh yang telah tersedia.

Aku bersandar, mencari posisi yang aman sebelum mulai berbicara, “bukan Aiden yang memasaknya.”

Paman Rob menaikkan satu alisnya, bingung.

“Aiden mengunjungi makam Victoria, adiknya. Kemarin peringatan kematiannya, Paman.”

Hening. Paman Rob belum menyelesaikan sarapannya, dan aku hanya bisa mengamati jeruji besi ini, sekelebat pikiran menghampiriku. Aku mendesah, apa aku harus mengatakan ini kepada Paman Rob?

“Katakanlah,”

Lagi lagi, sekarang aku mulai curiga Paman Rob ternyata memiliki kemampuan telepati. Well, sebenarnya aku tidak tahu Paman Rob mempunyai kekuatan apa.

Aku kembali menatap pria itu, “waktu itu ada seseorang yang mengantarkan makan malam ke depan kamarku, dia menyertakan secarik kertas bersamanya. Dan kau tahu, Paman? Tulisan itu sama persis dengan tulisan Sehun,”

Samar samar aku bisa melihat mata Paman Rob agak melebar, tetapi dia dengan cepat mengendalikannya. “Oh Sehun?” tanyanya yang membuatku menganggukan kepala.

“Menurutmu bagaimana, Paman?”

“Bagaimana apanya?”

Aku menghelakan nafas. “Tentang ini, menurut Paman bagaimana?” ulangku.

Paman Rob malah tertawa renyah, dia tersenyum sedikit. “Bagaimana kalau aku bilang dia memperhatikanmu?” ucapnya menarik kesimpulan.

“Aku tidak tahu,” aku mengangkat bahuku. “Mungkin dia merasa kasihan kepadaku?” aku tertawa kecil.

“Atau dia menyukaimu?” pertanyaan Paman Rob-yang sebenarnya lebih mirip pernyataan-membuat organ vital dalam tubuhku berhenti bekerja dalam beberapa detik, rasanya darahku mendidih, membuat wajahku memanas.

“Ah, sudahlah lupakan soal itu, Selina,” kata Paman Rob kemudian yang mungkin merasa mendapatkan respon aneh dariku. Ya, lupakan saja Selina. Aish, bagaimana bisa jantungku berdegup kencang gara gara ini?

“Wajahmu memerah, Nona. Sebaiknya kau mencari udara segar di luar sana,” kekehan Paman Rob menyadarkanku.

Aku tersenyum kikuk, “ah baiklah. Sampai jumpa, Paman.”

.

.

.

Hamparan permadani biru terekspos langsung, awan awan berarak ke arah timursecara perlahan, sekelompok burung berterbangan. Angin sore membelai pipiku dengan gemulai, membuat anak rambutku tersibak begitu saja.

Tebak aku sedang dimana. Yap, berbaring di tengah tengah ladang lavender. Aku rasa aku tertidur dalam jangka waktu yang cukup lama di sini, tempat ini memang cocok untuk tidur siang.

Aku mengangkat tanganku, melakukan peregangan kecil, membuat tubuhku menggeliat pelan.

“Sudah bangun, putri tidur?”

Sebuah suara mengagetkanku, sontak membuatku bangun terduduk dan menolehkan kepalaku ke sumber suara. Sejak kapan dia berada di sampingku?

“Tahu darimana aku sedang berada di sini?” tanyaku pada sosok lelaki itu.

“Dimana lagi aku bisa menemukanmu kalau tidak di kamar, dapur, atau halaman belakang? Lagipula mana bisa kau melewatkan hari secerah ini?”

Aku tertawa kemudian merebahkan badanku lagi, menempelkan kepalaku di pundaknya.

“Sejak kapan kau kembali, Aiden? Aku tidak melihatmu di dapur tadi pagi,”

“Aku baru sampai siang tadi,”

“Bagaimana di sana?”

“Baik, semuanya baik.” jawabnya singkat. “Kemarin malam aku memimpikan Victoria dan Ibuku, aku merindukan mereka,” katanya pelan. Aku mendongak, tatapan sendu itu lagi.

“Ayolah, Aiden. Tidak semestinya kau bersedih di cuaca sebagus ini,” hiburku.

“Sel, makin lama kau semakin mirip dengan Victoria,” sahutnya mengindahkan ucapanku. “Kau adikku, jangan pernah meninggalkanku seperti yang Victoria lakukan,” tandasnya.

Aku tersenyum, “kau bicara apa, Aiden? Tentu saja tidak!”

Syukurlah, bibirnya akhirnya melengkung membentuk sebuah senyuman.

Aku bangkit, berdiri dan menarik tangannya. “Ayo kembali ke asrama, besok kita harus kembali bekerja! Lagipula hari sudah sore,” ajakku. Dia ikut berdiri kemudian kami berjalan bersama, kembali ke Xyn.

.

.

.

Xyn Academy kembali disesaki para murid yang telah usai dari liburan masingmasing. Kebanyakan dari mereka yang berlalu lalang menyeret sebuah koper, atau minimal sebuah backpack.

Dari jarak pandang 7 meter, mataku menangkap sosok lelaki berambut emas berjalan berlawan arah denganku dan Aiden. Sehun, sudah 2 hari aku tidak melihatnya.

Dia menatap lurus lurus ke depan hingga tatapan lelaki itu bertemu dengan tatapanku. Kedua ujung bibirnya terangkat. Oh, dia baru saja tersenyum untukku…. Baru saja aku hendak membalas senyumannya, ia menunduk, tangan kirinya merogoh sakunya.

Aku terus berjalan bersama Aiden, cepat atau lambat aku akan berpapasan dengan Sehun. Sial, apa yang terjadi dengan jantungku?

1 meter. Sehun lagi lagi melempar senyumnya untukku, kami benar benar berpapasan sekarang. Dalam posisi yang sejajar, kurasakan tangan kananku digenggam, tangan kanan Sehun memasukkan sesuatu dalam genggamanku. Sepersekian detik kemudian genggaman itu terlepas, aku buru buru mengangkat tangan kananku. Astaga, dua bungkus permen dengan tulisan ‘smile’ tertoreh di sana. Aku menoleh ke belakang, menemukan punggung Sehun yang sudah mau berbelok.

“Sel, kau kenapa? Wajahmu memerah,” tiba tiba Aiden mengeluarkan suaranya membuatku tersenyum salah tingkah seraya tangan kananku menggenggam dua bungkus permen yang baru saja Sehun berikan.

“T -tidak apa apa,”

Hey, sejak kapan aku jadi gugup begini!?

TBC

10 comments on “Love Warrior — Trip 4

  • Wuaah…keren…sayang yang kali ini pendek banget…
    Aiden ‘n Sehun sweet banget!!!
    Apa kematian victoria ada hubungannya dengan keluarga Baekhyun??
    Sehun misterius tp romantis…kya…
    Cepat lanjutannya ya…makin seru ni!!!🙂

  • huaa~ nungguin Trip 4, biasanya keluar setiap Sabtu/Minggu ._.
    Kereen deh, Kukira Cassie itu jahat, ternyata di baikk~ hm.. Cassie baik nya pura-pura ato beneran tuh?😀

  • Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: